MATRAMAN,JO – Bambang Pamungkas sukses menggelar peluncuran buku keduanya yang berjudul Bepe20: PRIDE,
Selasa (24/6). Meski Bepe –sapaan akrab Bambang Pamungkas- sudah tidak
lagi berbaju Persija musim ini, namun acara yang diadakan di Gramedia
Matraman, Jakarta itu sukses menarik perhatian ratusan pecinta Persija
maupun masyarakat umum yang mengagumi sosok pemain bernomor punggung 20
tersebut.
Di dalam sambutannya, pria jebolan Diklat Salatiga itu menceritakan bahwa dipilihnya kata Pride di dalam judul buku terbarunya mengandung unsur filosofi Plurality (keberagaman), Responsibility (tanggung jawab), Integrity (keteguhan), Dignity (martabat), dan Equality (kesetaraan). “Pride artinya tidak hanya kebanggaan, tapi lebih dari itu ada makna yang terdapat di masing-masing huruf yang membentuk kata itu,” tutur Bepe di sela-sela acara.
Tak hanya menceritakan tentang filosofi makna kata Pride, bomber Pelita Bandung Raya tersebut juga menjelaskan tentang perbedaan isi buku terbarunya dengan buku pertamanya yang berjudul Ketika Jemariku Menari. Bepe berharap, buku terbarunya tersebut dapat diterima oleh masyarakat serta mampu menjadi sebuah alternatif bacaan yang ringan dan juga bermanfaat.
“Buku ini akan banyak berisi pengalaman saya saat berada di dalam konflik berkepanjangan di tubuh PSSI. Selain itu, buku ini juga lebih spesifik di dalam menceritakan perjalanan saya mulai 2011 sampai awal 2014,” tutup Bepe.
Di dalam sambutannya, pria jebolan Diklat Salatiga itu menceritakan bahwa dipilihnya kata Pride di dalam judul buku terbarunya mengandung unsur filosofi Plurality (keberagaman), Responsibility (tanggung jawab), Integrity (keteguhan), Dignity (martabat), dan Equality (kesetaraan). “Pride artinya tidak hanya kebanggaan, tapi lebih dari itu ada makna yang terdapat di masing-masing huruf yang membentuk kata itu,” tutur Bepe di sela-sela acara.
Tak hanya menceritakan tentang filosofi makna kata Pride, bomber Pelita Bandung Raya tersebut juga menjelaskan tentang perbedaan isi buku terbarunya dengan buku pertamanya yang berjudul Ketika Jemariku Menari. Bepe berharap, buku terbarunya tersebut dapat diterima oleh masyarakat serta mampu menjadi sebuah alternatif bacaan yang ringan dan juga bermanfaat.
“Buku ini akan banyak berisi pengalaman saya saat berada di dalam konflik berkepanjangan di tubuh PSSI. Selain itu, buku ini juga lebih spesifik di dalam menceritakan perjalanan saya mulai 2011 sampai awal 2014,” tutup Bepe.


