JakOnline - Setelah gelaran Final UCL yang mempertemukan Real Madrid dan Atletico Madrid yang akhirnya dimenangi Real Madrid yang juga merupakan La Decima atau gelar ke-10 El Real di pentas Eropa yang diraih beberapa waktu yang lalu, setelah laga ini berakhir, beberapa hari kedepan kita akan disuguhi pesta sepakbola terbesar sekaligus paling bergengsi di seantero bumi ini, yup, World Cup Brazil 2014.
Sebagai penikmat sepakbola, tentu saja saat-saat seperti ini adalah waktu yang paling ditunggu bukan hanya oleh saya pribadi, tapi juga ribuan rakyat Indonesia. Bukan hal aneh kalau melihat hegemoni yang terjadi, padahal tidak ada nama INDONESIA di daftar 32 peserta yang mengikuti ajang ini. Jangankan untuk masuk ke World Cup, untuk sekedar Juara di Asia Tenggara pun masih menjadi mimpi indah. Tapi itu semua tidak mengurangi minat masyarakat terhadap sepakbola (mancanegara). Apakah ini salah Federasi kita ? Federasi yang cukup berumur dan biasa di singkat Persatuan Sinetron Seluruh Indonesia oleh mereka yang sebenarnya kreatif tapi salah menempatkan hasil kreasinya. Bukan menjatuhkan PSSI, segala intrik yang terjadi (sebagian besar) terjadi oleh Federasi itu sendiri. Kalau bicara salah, memang kita semua sebagai pecinta sepakbola bisa disalahkan. Mereka yang berkoar tentang sepakbola mancanegara mengatakan kalau sepakbola Nasional masih rusuh, anarkis, dan kurang menguntungkan secara bisnis. Tapi apakah mereka juga ikut mengawal perkembangan sepakbola Nasional umumnya dan Timnas Indonesia pada khususnya ?
Kembali ke gelaran Piala Dunia yang sebentar lagi akan digelar, apakah mereka ikut bangga jika jagoannya menjadi juara dunia ? itu yang lucu. . .Saya lebih bangga mendukung Perjuangan Timnas Indonesia secara langsung ke Stadion (meskipun hasil akhir tidak selalu memihak) dari pada melihat Brazil atau Spanyol menjadi juara di Piala Dunia. Meski bagi sebagian orang, ini sedikit berlebihan dan munafik dalam menilai perkembangan sepakbola nasional, tapi mereka hanya mengumbar kekonyolannya. Mereka menjudge sepakbola negaranya sendiri kurang bermutu, tapi mereka juga tidak mau mengawal dan tidak mau tahu tentang perkembangan sepakbolanya di negeri tempat mereka tinggal dan (mungkin) matinya pun nanti di negara ini.
Alangkah lucunya negeri ini, mereka menertawakan kami yang setia mengawal den mengikuti perkembangan sepakbolanya, tapi disisi lain mereka tidak mau tahu dengan segala kondisi yang terjadi di negeri ini. Dan melihat sepak terjang Timnas Indonesia dalam 2 dasawarsa terakhir baru Timnas U-19 yang berprestasi dan membanggakan masyarakat Indonesia, Timnas U-23 dan Timnas Senior masih tertatih-tatih meskipun itu berlaga dilevel Asia Tenggara. Tapi apapun itu, SAYA TETAP BANGGA ! dan satu harapan pribadi saya, semoga Garuda Di Dada bisa menyatukan seluruh lapisan masyarakat dan supporter yang ada ditanah airku Indonesia Raya. (@mv_metz/JO)


