JakOnline - Hari ini 20/5 PT Liga Indonesia merilis
jumlah penonton yang menyaksikan laga-laga ISL selama putaran pertama
berlangsung. Di wilayah Barat penonton yang hadir ke stadion mencapai
563.315 penonton. Selain itu, rilisan resmi ini juga mengeluarkan fakta
bahwa The Jakmania menjadi penonton terbanyak yang hadir langsung
mendukung Persija Jakarta. Sekitar 114.131 Jakmania hadir di stadion
pada putaran pertama ini.
Sungguh sangat membanggakan bagi Jakmania yang mendukung Persija musim ini. Tak mengenal lelah, tak peduli siang ataupun malam, tak peduli hujan dan panas, Jakmania membuktikan diri bahwa dirinya supporter fanatik dalam mendukung Persija.
Tak mudah sebenarnya mendukung Persija Jakarta langsung di stadion meskipun di Jakarta sendiri. Musim lalu saja, Persija kerap kali gagal menggelar laga kandang di Jakarta karena tidak mendapatkan ijin keramaian dari pihak Kepolisian. Ini menjadi sebuah kerugian tersendiri bagi Persija dan Jakmania.
Selain itu, Persija yang merupakan tim besar dan bersejarah bagi persepakbolaan tanah air kerap kali dirundung masalah. Kita kembali teringat akan perkataan Plato, bahwa “alle grosse steht in sturm”, semua yang besar terguncang-guncang. Kebesaran Persija beberapa tahun ini mengalami guncangan yang lumayan besar.
Masih segar dalam ingatan terjadinya kasus dualisme dalam pengurus Persija membuat tim Macan Kemayoran sempat sedikit mengalami guncangan. Djohar Arifin selaku ketua umum PSSI kala itu hanya mengakui Persija versi Hadi Basamalah. Padahal sesungguhnya yang mendapatkan mandat langsung dari internal Persija Jakarta menjadi Ketua Umum Persija ialah Ferry Paulus. Sebelum akhirnya lewat jalur hukum terbukti siapa yang berhak atas tim dengan satu bintang didada ini.
Masalah tak berhenti, nyatanya pada musim ini Persija Jakarta meski kehilangan ikon utamanya yang selama ini menjadi pujaan Jakmania, yakni Bambang Pamungkas yang hijrah ke Pelita Bandung Raya. Kekecewaan sempat terjadi pada diri Jakmania terhadap manajemen karena lambat menyelesaikan masalahnya dengan Bepe.
Namun, keguncangan dan filsafatnya Plato tidak sampai menimbulkan kehancuran pada Persija. Masalah demi masalah yang menghinggapi tak menyurutkan semangat Jakmania hadir ke stadion memberikan dukungannya kepada Persija. Ini terbukti dengan rilisan resmi dari PT Liga Indonesia yang terdapat dalam paragraph pertama tulisan ini. Sungguh luar biasa kecintaan Jakmania terhadap Persija.
Jakmania tetap fokus mendukung Persija meskipun masalah kerap kali menimpa. Inilah yang patut untuk terus dipertahankan oleh Jakmania. Mereka terkadang berani memprotes kebijakan klub yang lambat dalam membangun Persija, namun mereka selalu ada untuk terus mendukung Persija dalam keadaan bagaimanapun, baik itu pada kondisi baik maupun buruk. (@ojiwae/JO)
Sungguh sangat membanggakan bagi Jakmania yang mendukung Persija musim ini. Tak mengenal lelah, tak peduli siang ataupun malam, tak peduli hujan dan panas, Jakmania membuktikan diri bahwa dirinya supporter fanatik dalam mendukung Persija.
Tak mudah sebenarnya mendukung Persija Jakarta langsung di stadion meskipun di Jakarta sendiri. Musim lalu saja, Persija kerap kali gagal menggelar laga kandang di Jakarta karena tidak mendapatkan ijin keramaian dari pihak Kepolisian. Ini menjadi sebuah kerugian tersendiri bagi Persija dan Jakmania.
Selain itu, Persija yang merupakan tim besar dan bersejarah bagi persepakbolaan tanah air kerap kali dirundung masalah. Kita kembali teringat akan perkataan Plato, bahwa “alle grosse steht in sturm”, semua yang besar terguncang-guncang. Kebesaran Persija beberapa tahun ini mengalami guncangan yang lumayan besar.
Masih segar dalam ingatan terjadinya kasus dualisme dalam pengurus Persija membuat tim Macan Kemayoran sempat sedikit mengalami guncangan. Djohar Arifin selaku ketua umum PSSI kala itu hanya mengakui Persija versi Hadi Basamalah. Padahal sesungguhnya yang mendapatkan mandat langsung dari internal Persija Jakarta menjadi Ketua Umum Persija ialah Ferry Paulus. Sebelum akhirnya lewat jalur hukum terbukti siapa yang berhak atas tim dengan satu bintang didada ini.
Masalah tak berhenti, nyatanya pada musim ini Persija Jakarta meski kehilangan ikon utamanya yang selama ini menjadi pujaan Jakmania, yakni Bambang Pamungkas yang hijrah ke Pelita Bandung Raya. Kekecewaan sempat terjadi pada diri Jakmania terhadap manajemen karena lambat menyelesaikan masalahnya dengan Bepe.
Namun, keguncangan dan filsafatnya Plato tidak sampai menimbulkan kehancuran pada Persija. Masalah demi masalah yang menghinggapi tak menyurutkan semangat Jakmania hadir ke stadion memberikan dukungannya kepada Persija. Ini terbukti dengan rilisan resmi dari PT Liga Indonesia yang terdapat dalam paragraph pertama tulisan ini. Sungguh luar biasa kecintaan Jakmania terhadap Persija.
Jakmania tetap fokus mendukung Persija meskipun masalah kerap kali menimpa. Inilah yang patut untuk terus dipertahankan oleh Jakmania. Mereka terkadang berani memprotes kebijakan klub yang lambat dalam membangun Persija, namun mereka selalu ada untuk terus mendukung Persija dalam keadaan bagaimanapun, baik itu pada kondisi baik maupun buruk. (@ojiwae/JO)


